Ngapain di Nias? Ini 5 Destinasi yang Wajib Kamu Kunjungi

pasir merah

Pasir Merah dengan Legenda Lau Omara

Pemandangan pasir putih sekitar pantai, tentu menjadi pemandangan klise saat berwisata ke pantai. Tapi bagaimana kalau pemandangan pasir merah? Pasir merah dengan hamparan ranting dibawa ombak, pasir merah dengan buih-buih air laut di bibir pantai yang lempang.

Pantai Pasir Merah, atau pantai Gawu Sayo sebutan penduduk sekitar, di desa Ombolata, Kecamatan Afulu, Nias Utara, Sumatera Utara, memiliki keunikan pada warna pasirnya yang berwarna merah seperti warna tanah liat.

Keunikan seperti ini tidak banyak ada di Indonesia, bahkan hanya dapat ditemukan di pulau Komodo dan Lombok. Jadi, wisata ke pantai ini saat berada di Sumatera Utara tentu tak bisa dilewatkan.

Pantai Gawu Soyo sebenarnya memiliki legenda tersendiri, di kalangan penduduk. Damaline Jaluhu, penjaga pantai menuturkan konon terjadi pertumpahan darah di pantai ini, lalu Lau Omaro sebagai tetua di sini pada saat itu mengorbankan dirinya untuk persembahan ke laut.

Sejak itu pasir-pasir sekitar medan perang berubah berwarna merah dan hingga kini dipercaya sebagai pasir jelmaan darah tetua Lau Omara, katanya.

Di luar dari cerita asal mula pantai dari masyarakat sekitar, pasir merah memantulkan warna laut yang biru menjadi merah pada saat matahari terbit atau matahari terbenam. Keindahan tersebut terasa tidak bisa dilewatkan, apalagi saat anda datang bersama pasangan. Ahh… Pantai ini disebut-disebut pantai teromantis di Nias.

Karena bukan rahasia lagi, warna merah menjadi simbol cinta, seperti warna merah pada mawar dan merah pada pita kado hadiah valentine. Kebanyakan yang datang rombongan anak muda, turis mancanegara yang ingin mendokumentasikan sunset dan sunrise, khususnya pasangan.

Tapi sayangnya pantai sebagus ini tidak dikelola pemerintah bahkan penunjuk arah hingga spanduk pun tidak ada. Wisatawan banyak meraba-raba kalau mau ke sini. Kerena pemukiman penduduk jauh dari pantai tersebut.

Terkait pengelolaan, pantai ini terbilang terabaikan. Tidak ada plang penanda bahwa wisawatan telah sampai di Pantai Pasir Merah, hanya ada warung kecil di samping akses masuk ke pantai, yang hanya sekitar 20 meter dari jalan.

Yap, pemandangan pantai telah tampak saat wisatawan lalu-lalang di jalan raya Desa Ambolata. Untuk memastikan keberadaan pintu masuk, wisatawan biasanya bertanya ke warung tersebut, yang menjadi satu-satunya rumah di pinggir jalan.

Tidak ada retribusi masuk untuk mengunjungi pantai, wisatawan bahkan bisa memilih tempat meletakkan tikar dimana saja sekitar pantai.

Tidak ada pungutan sewa tempat untuk menggelar tikar, jadi wisatawan bisa datang membawa tikar sendiri dengan bekal makanan untuk disantap di pinggir pantai.

Jika ingin melihat gulungan ombak tinggi, wisatawan bisa datang pada bukan Juni dan September karena ketinggian ombak di bulan itu bisa mencapai 3-4 meter lebih. Tidak kalah indah dan cocok untuk surfing.

Pantai ini berjarak sekitar 50 km dari pusat kota Gunung Sitoli atau 60 km dari Bandara Bhinaka. Untuk menuju pantai ini wisatawan dapat menempuh perjalanan dari Kota Gunung Sitoli atau dari Bandara Binaka Nias dengan menggunakan kendaraan mobil carteran yang ada di bandara.

Jarak tempuhnya sekitar dua jam dari pusat kota dan bandara, di bandara sudah tersedia mobil carteran dengan biaya Rp 600 ribu untuk keliling objek wisata Nias seharian sudah termasuk bensin dan supir, atau mobil lepas kunci Rp 300 ribu.

Bagi wisatawan dari Medan, juga kini lebih mudah karena sudah jalur udara yang terbang dua kali perharinya mengantarkan penumpang ke Nias. Atau dari jalur laut melalui Sibolga yang memakan waktu sekitar 10 jam menggunakan bus dan menyeberang dengan kapal selama 8 jam dari Sibolga.

Di sana tidak angkutan umum yang melewati objek wisata, jadi wisatawan disarankan berangkat rombongan untuk biaya murah mencarter mobil.Beberapa fasilitas di pantai ini masih belum ada, tidak ada toilet dan tempat makan. Begitu pula penginapan di sekitar pantai. Penginapan bisa diperoleh di kota terdekat seperti gunung Sitoli.

/////

Pantai Biru dengan Batu Karang Mirip Otak

pantai Tureloto, Nias Utara

niassw

Ada Pantai Tureloto yang terletak di Desa Balefadorotuho, Kecamatan Lahewa, Kabupaten Nias Utara, Propinsi Sumatera Utara yang terkenal dengan memiliki kandungan garam yang tinggi sehingga cukup membuat badan manusia terapung saat berada di tengah laut, seperti halnya fenomena Laut Mati yang ada di negara Yordania.

Keindahannya juga terletak pada batu karang raksasa yang berbentuk bundar di bibir pantai.Wisatawan kerap mendokumentasikan diri di batu karang tersebut. Batunya keras dan tidak tajam, persis seperti batu raksasa yang berserakan di pinggir pantai, jika dipandang dari jauh.

Batuan karang yang terhampar tersebut memiliki bentuk unik, ada yang menyerupai bentuk otak manusia sehingga beberapa masyarakat sekitar menyebutnya dengan Batu Otak.

Pantai Tureloto berhadapan langsung dengan Samudera Hindia yang terkenal mempunyai ombak besar. Tetapi di pantai ini tidak ada yang namanya ombak besar, hal itu dikarenakan terdapatnya gugusan karang yang berada di beberapa ratus meter dari bibir pantai yang berjajar menyerupai sebuah benteng sebagai pemecah ombak.

Pemandangan pantai ini berubah pasca tsunami 2005, dulu pantai ini layaknya pantai yang biasa ditemui, ada pasir pantai yang melimpah di garis bibir pantai, tapi sekarang  wajah pantai ini berubah menjadi hamparan batuan karang dan menambah keesotikan pantai.

Dimana objek wisata yang belum maenstrim di Sumatera Utara, ya Pantai Tureloto di Nias Utara ini. Sayangnya, pemilik warung di sana menuturkan wisatawan lokal yang paling jauh ke sini, ya dari Gunung Sitoli, kalau dari Medan dan wilayah sekitarnya jarang sekali, apalagi dari luar kota. Lucunya, wisatawan Gunung Sitoli yang dimaksud hanya berjarak 1 jam dari Pantai Tureloto. Jika saja terekspose dengan baik, Pantai Toreloto layak jadi destinasi wisatawan luar kota saat mengunjungi Sumatera Utara.

Beberapa fasilitas di pantai ini sudah terbilang lengkap, terdapat beberapa toilet dan tempat makan yang menyajikan aneka makanan laut dengan bumbu khas Nias. Tetapi belum ada penginapan di daerah sekitar pantai, penginapan bisa diperoleh di kota terdekat seperti gunung Sitoli.

Di sana juga ada menyediakan jasa menyusuri pantai dengan sampan nelayan, bisa pula menyeberangi pulau kecil di sana yang memiliki pemandangan pepohonan rimbun, dengan biaya 10 ribu perorang.

Biasanya wisatawan menyusuri pantai kemudian nyeberang ke pulau untuk piknik. Mereka bawa makanan sendiri atau beli makanan di warung, dan bawa ke sana.

Karena belum terkelola dengan baik, untuk fasilitas diving atau snorking belum tersedia, padahal kekayaan di dasar laut sekitar pantai tersebut dijamin memiliki keindahan batu karang dan jenis ikan langka.

Tapi, untuk wisatawan lokal yang mau fasilitas ala kadar untuk melihat bawah laut, di sini ada kacamata renang, yang disewakan seikhlasnya berapa mau bayar, katanya.

Penduduk sekitar yang memiliki warung di sana memang sangat menyambut tamu, selain bebas parkir dan menggunakan kama mandi, retribusi masuknya pun tidak ada.

Wisatawan bisa sepuasnya menikmati pantai dengan tidak ada biaya. Cukup membawa bekal dan tikar untuk piknik di bawah pepohonan dan memesan lauk seafood seperti ikan bakar.

Pantai ini berjarak sekitar 60 km dari pusat kota Gunung Sitoli atau 80 km dari Bandara Bhinaka. Untuk menuju pantai ini Anda dapat menempuh perjalanan dari Kota Gunung Sitoli atau dari Bandara Binaka Nias dengan menggunakan kendaraan mobil carteran yang ada di bandara.

Jarak tempuhnya sekitar dua jam dari pusat kota dan bandara, di bandara sudah tersedia mobil carteran dengan biaya Rp 600 ribu untuk keliling objek wisata Nias seharian sudah termasuk bensin dan supir, atau mobil lepas kunci Rp 300 ribu.

Bagi wisatawan dari Medan, juga kini lebih mudah karen sudah jalur udara yang terbang dua kali mengantarkan penumpang ke Nias. Atau dari jalur laut melalui Sibolga yang memakan waktu sekitar 8 jam menggunakan kapal nelayan atau 4 jam menggunakan boat dengan biaya sekitar 150 ribu perorang dan bus dari Medan ke Sibolga sekitar Rp 120 ribu.

Di sana tidak angkutan umum yang melewati objek wisata, jadi wisatawan disarankan berangkat rombongan untuk biaya murah mencarter mobil.

////////

Pantainya Penggila Surfing, Dulu

sorake

Sudah genap 12 tahun pascastunami Nias, tapi antusias peselancar ke Pantai Sorake,  Teluk Dalam, Nias Selatan, kian berkurang. Rupanya, pemandangan sekitar pantai sudah menjawabnya.

Batu karang naik ke darat, air laur bahkan surut hingga 50 meter dari bibir pantai biasanya.

Pantai yang terkenal memiliki ombak hingga 8 meter dan memiliki tingkatan ombak yang tidak banyak dimiliki pantai lain karena bisa memiliki 3-4 tingkatan, kini hanya memiliki tinggi ombak paling tinggi 3-4 meter dan 1-2 tingkatan ombak.

Sebelum tsunami yang terjadi pada 2005, pantai ini dielu-elukan menjadi pantai surfing terbaik setelah pantai di Hawaii. Ketinggian ombak yang mencapai 6-8 meter, menjadi tantangan tersendiri bagi peselancar.

Pantai ini begitu sohor di mata pecinta surfing hingga kerap mempertemukan para surfer taraf internasional. Biasanya peselancar dari mancanegara  berkumpul di pantai Sorake pada April hingga September dan menunggu saat tiba bulan purnama. Di bulan itu, lipatan gelombang mampu mencapai 10 meter dengan 5 tingkatan. Selain itu, panjang daya dorong ombak di kawasan ini nyatanya bisa mencapai 200 meter.

Namun belakangan hanya ratusan turis yang datang pada bulan itu, tidak seperti tahun sebelum terjadi tsunami yang membludak hingga puluha ribu.

Ama David, penduduk menuturkan pasca tsunami pembangunan kota Nias Selatan cepat berbenah. Bahkan penginapan di pinggir pantai cepat diselesaikan untuk kembali menyambut tamu luar negeri untuk kegiatan surfing di bulan purnama tahun berikutnya pasca tsunami.

Tapi ternyata tsunami mengubah arah ombak yang tinggi, pantai Sorake tidak memiliki ombak dan tingkatan setinggi dulu. Paling tinggi, itupun kalau bulan purnama memang bisa mencapai 5 meter.

Puas menjelajah wisata  pantai Sorake, kini penulis akan membahas wisata sejarah di Desa Bawomataluo, Teluk Dalam, Nias Selatan yang berada sekitar 8 kilometer dari Sorake. Menaiki 77 anak tangga menuju Desa Bawomataluo, menjadi ritual yang harus dilakukan untuk melihat desa yangberusia sekitar 300 tahun dengan bangunan rumah dari batu dan rangka pohon tua yang disusun tanpa paku serta semen ini.

Rumah Adat Desa Bawomataluo merupakan rumah adat Nias yang masih kokoh dan terjaga kekhasannya tanpa perombakan modernisasi seperti rumah pada umumnya di zaman sekarang.

Rumah adat Nias tersebut bahkan sudah memasuki berusia ratusan tahun dan masih ditempati oleh keturunan penduduk pertama desa tersebut.

Desa Bawomataluo dibuka untuk wisatawan lokal hingga mancanegara, wisatawan yang datang tentu karena tertarik bangunan tua yang ada di sini.

Rumah besar atau Omo Sebua yang masih utuh tersebut berada di tengah perumahan penduduk desa Bawomataluo. Sebuah keunikan tersendiri melihat Omo Sebua yang merupakan rumah adat terbesar di sana dengan 60 tiang dan beberapa diantaranya merupakan tiang kayu bulat yang sangat besar.

Uniknya, Martinus Muarata Fao, keturunan Raja Keenam Loehe Fao yang membangun rumah tersebut,  menuturkan kayu-kayu tersebut didatangkan dari pulau Telo dan pulau-pulau lainnya di sekitar pulau Nias dengan cara dihanyutkan dan ditarik dengan kereta peluncur.

Rumah raja ini dibangun oleh 40 pekerja ahli, dan menghabiskan masa empat tahun untuk merampungkannya. Selama empat tahun itu, tiap harinya dua ekor babi disediakan untuk makan para pekerja. Dan puncaknya, 300 ekor babi dihidangkan saat rumah raja ini selesai dibangun.

Seluruh taring babi saat peresmian rumah adat dalam pesta adat yang digelar saat tidak disia-siakan, melainkan dijadikan pajangan di ruang singgasana raja.

Batu yang menjulang tinggi adalah batu Faulu, batu tanda raja, sebelah kanan adalah batu Loawo sedangkan yang sebelah kiri batu Saonigeho, sementara batu datar adalah batu untuk mengenang kebesaran dan jasa kedua orang raja ini. Pemandangan batu tersebut merupakan batu pembuka saat memasuki rumah raja di Desa Bawomataluo, Teluk Dalam, Nias Selatan. Sementara Batu di depan balai desa (Omo Bale) merupakan tempat duduk masyarakat jelata bila ada  pengambilan keputusan.

Sedangkan pemandangan di dalam rumah raja, ada ukiran mahkota raja dan mahkota permaisuri di dinding kayu akan tampak di sisi kanan dan kiri singgasana kursi raja dan permaisuri.

Kemudian ukiran kapal Portugis, sebagai bentuk terimakasih raja terhadap kedatangan kapal pertama masuk ke Nias. Pendatang Portugis itu pula yang memberikan peralatan besi untuk penyempurnaan bangunan rumah raja, jadi rumah raja merupakan rumah pertama di zamannya yang mendapatkan bahan bangunan rumah dari besi. Rumah tersebut juga dibangun tanpa penyatu seperti paku untuk mempersatukan kayu. Asli berupa susunan kayu bulat dan kayu pahatan, tapi tidak pernah roboh bahkan dimakan usia dan beberapa kali bencana seperti gempa dan angin kencang.

Lihat apalagi di Desa Bawamataluo? Ada tradisi lompat batu tinggi menjulang hingga 2,10 meter. Tradisi ini juga sempat mencuri perhatian pada tahun 90 an hingga diabadikan dalam gambar uang seribu pada tahun itu di Indonesia.

Namun, hilangnya peredaran uang seribu tersebut tidak memudarkan minat wisatawan untuk melihat tradisi tersebut.

Tradisi yang biasa disebut fahombo batu adalah tradisi asli suku Nias di Desa Bawamataluo yang sudah dikenal di Indonesia maupun mancanegara ini masih fenomenal hingga tarif melihat aksi pemuda setempat melompati batu pun dibandrol Rp 200 ribu sekali lompatan.

Walaupun cukup mahal, wisatawan cukup beruntung dipandu langsung oleh sosok pelompat dalam foto uang seribu lama tersebut.

Tafo Elu Nehe, penduduk Desa Bawamataluo yang juga menjadi sosok dalam foto uang seribu lama tersebut menuturkan, tradisi lompat batu menjadi ciri khas di Desa Bawamataluo, tapi belakangan jumlah pemuda yang menguasai bidang tersebut tidak sebanyak dulu. Oleh sebab itu tarif melihat tradisi lompat batu semakin tinggi.

Sekarang wisatawan yang ingin melihat pertunjukkan sekali melompat dikenakan biaya Rp 200 ribu, tapi kalau ingin melihat 2 lompatan mendapat harga lebih murah yakni Rp 300 ribu.

Menurutnya, tradisi lompat batu dulu dan kini sangat berbeda. Jika dulu, semua pemuda diwajibkan mengikuti test lompat batu ini pada usia 15 tahun.

Awalnya tradisi ini untuk berlatih perang para pemuda suku Nias dikarenakan nenek moyang terdahulu sering berperang antarsuku.

Jika ada seorang pemuda yang berhasil melewati batu ini sang pemuda kelak akan menjadi pemuda pembela kampungnya ketika ada konflik dengan warga desa lain.

Namun, kini pemuda di sini tidak lagi diwajibkan untuk latihan melompat dan tidak diuji saat memasuki usia 15 tahun. Pemuda sekarang hanya dilatih bagi mereka yang tertarik menjadi pelompat batu, sedangkan yang tidak mau tidak ada paksaan, katanya.

Syukurnya, tradisi turun menurun sejak 200 tahun lalu pada pemerintahan Raja Keenam ini masih menjadi minat beberapa pemuda yang ingin mempertahankan ciri khas desanya.

Ia menuturkan kemampuan melompat batu dihubungkan dengan kemampuan pemudanya untuk membela kampungnya. Ketinggian batu mencapai 2,10 meter dengan ketebalan 40 cm menjadi ajang kesempatan untuk pemuda Nias membuktikan bahwa dirinya sudah pantas dianggap dewasa dan matang secara fisik.

Zaman dulu, Para pemuda masyarakat suku Nias berfikir bahwa lompat batu ini sangat berharga. Maka dari itu jika ada pemuda berhasil melompati batu pada kali pertama bukan saja menjadi kebanggaan dirinya sendiri tapi juga bagi keluarganya.

Biasanya jika ada pemuda yang baru pertama kali mampu melompati batu ini keluarga mereka akan menyembelih beberapa ekor ternak sebagai wujud syukur atas keberhasilan anaknya. Namun sekarang, pemuda yang berlatih melompat batu adalah mereka yang ingin memenangkan kompetisi lompat batu yang rutin diselenggarakan setiap tahunnya oleh pemerintah setempat.

Kompetisi lompat batu merupakan usaha untuk menjaga terus keberlanjutan penerus pelombat batu di desa ini.

///////////

Pulau Asu, Bukan Pulau Anjing

pulau asu

pulau asus

Selain Sorake,  Pulau Asu di Nias Pulau Asu, yang berada di Kecamatan Sirombu, Nias Barat,  juga menjadi destinasi surfing para surfer dunia. Walaupun memiliki persamaan kondisi, yakni gulungan dan tingkatan ombak yang tidak tinggi lagi, Pulau Asu menawarkan suasana eksclusif liburan seperti di pulau pribadi.

Pulau Asu menjadi destinasi wisatawan yang ingin jauh dari rutininas alias kehidupan kota dan keramaian. Sebab, pengunjung pulauditawarkan keprivasian seperti berada di pulau milik pribadi.  Jarak rumah penduduk satu dengan penduduk lainnya bisa hingga 100 meter, lossmen (penginapan) satu dengan penginapan lainnya bisa sampai 1 kilometer.

Di sana hanya ada 3 lossmen, 1 milik penduduk lokal dan 2 milik warga negara asing Amerika dan Brazil, sebelumnya juga ada lossmen WNA Belgia yang sedang bermasalah sehingga ditutup.

Yap, keindahan Pulau Asu menarik perhatian Warga Negara Asing (WNA) untuk membangun penginapan di sana.

Penginapan menawarkan beragam fasilitas santai di pemukiman pantai, seperti cafe dari tepas atau tulang daun kelapa di pinggir pantai, wisatawan bisa duduk sambil menikmati buah kelapa muda langsung dari pohonnya.

Adapula, speed boat untuk menyusuri pulau kecil sekitar Pulau Asu yang ada 7. Seperti Pulau Hinako, Heruanga, Babosalo’o, Bawah, Hamutala, Begi, dan Pulau langu. Atau hanya sekadar ayunan santai dan hammock untuk duduk atau tiduran menimati pemandangan sekitar pantai. Bisa dibilang pulau Asu dibanjiri wisatawan yang ingin merasakan kehidupan alam secara private.

Rumah dan losmen yang terbuat dari papan dan tepas, fasilitas listrik yang belum masuk, alias untuk mendapatkannya harus menggunakan genset. Jangan harap untuk mendengarkan atau menonton televisi di sana, atau makan makanan dingin dari kulkas atau merasakan udara ruangan dingin menggunakan AC atau kipas. Tapi kehidupan tanpa kemajuan teknologi modern, menjadi nilai jual saat berada di pulau ini.

Kepala Dusun Desa Hanefa, Pulau Asu, Ama Benny, menuturkan wisatawan menyukai kehidupan di pulau terluar seperti di Pulau Asu.

Pasalnya pemandangan sekitar didominasi pohon kelapa, pasir putih dan sisa kerumbu karang yang bertengger dibawa ombak, serta biru laut yang luas.

Sesekali tiap penginapan juga menggelar pesta privat seperti menghidupkan musik dan party beach pada malam harinya. Penginapan sekitar, perkamarnya dibandrol Rp 300 ribu hingga 500 ribu dengan fasilitas yang hampir sama seperti kasur, rak, lemari, tempat duduk santai hingga ayunan dan hammock di depan kamar.

Harga kamar tergantung luas ruangan dan fasilitas tambahan seperti air minum, hammock dan lain-lain. Untuk turis mancanegara yang ingin bermukim lama hingga berminggu-minggu bisa mendapatkan nego harga. Bagi backpacker, bisa juga memasang tenda di atas bibir pantai, tepatnya di perkebunan penduduk.

Selain karena eksotis, ternyata Pulau Asu memiliki keunikan di penamaannya yang sering disalahsebutkan karena kebiasaan penduduknya.

Banyak wisatawan yang sering beranggapan Pulau Asu memiliki makna ‘Pulau Anjing’ dari saduran bahasa Jawa dan bahasa Nias ‘Asu’ yang memiliki arti ‘anjing’, karen penduduknya yang mayoritas memiliki anjing.

Terlebih lagi saat sampai meminggirkan kapal, gonggongan anjing dari pemilik penghuni pulau sudah menyambut wisatawan.

Padahal itu hanya kebetulan, karena banyak penduduk memelihara anjing untuk menjaga kebun dan menjaga rumah penduduk dari binatang buas dari hutan.

Sebutan Asu sebenarnya kependekan dari Asuhan. Nama Asuhan disematkan pada Pulau terjauh dan terindah ini. Ya maksudnya Pulau Asuhan, yang bermakna pulau terakhir, pulau yang sangat dijaga, dikagumi. Tapi karena orang Nias mengucapkan Asuh huruh ‘h’ nya tidak kedengaran jadi sering disebut ‘Asu’.

pulau aas

Uniknya lagi, walaupun terbilang minim penduduk, yakni hanya 20 Kepala Keluarga, tapi Pulau Asu dibagi menjadi 5 desa.

Lima desa cukup berjauhan dan dibatasi perkebunan penduduk. Ada desa Hanefa, desa hinako, Lahaba, Balemadate,Bawah dan de Sawah.

Tiap desa dihuni 5 kepala keluarga dan jarak dari rumah satu dengan rumah lainnya pun tidak berdekatan karena dipisahkan perkebunan penduduk. Tapi begitu pun penduduk cukup sering berkeliling untuk beramah tamah dari desa satu ke desa lainnya.

Sebelum Tsunami 2005, penduduk di pulau Asu mencapai lebih dari 50 keluarga. Tapi tsunami menyebabkan banyak kehilangan anggota kelurga di tiap kepala keluarga di Pulau Asu.

Pasca tsunami, penduduk banyak pindah ke kota atau ke Sirombu. Apalagi di sini tidak sekolah pasca stunami, anak-anak terpaksa disekolahkan di kota yang jaraknya 2 jam dari pulau, sehingga semakin banyak kepala keluarga yang pindah.

Di sini rata-rata mata pencaharian penduduk adalah berkebun pohon kelapa. Pasalnya, hampir seluruh lahan tanah  kosong didapati ada pohon kelapa. Setiap pekan penduduk membawa hasil kelapa untuk dijual ke kota.

Setiap pekan pula, sepulangnya menjual hasil kelapa, penduduk membeli persediaan bahan pokok selama di pulau seperti beras, minyak, gula, telur hingga pernak-pernik lainya kebutuhan rumah.

Penduduk di sini belanja bahan pokok mingguan, jadi beli persediaan sebanyak-banyaknya karena untuk ke kota atau menyeberang sangat memakan waktu dan biaya.

Memperhatikan rumah penduduk di sana juga mengundang perhatian. Pasalnya, penduduk masih sangat tradisional. Masih banyak rumah yang berdindingkan kayu dan beratapkan rumbia.

Wisatawan banyak mendokumentasikan diri di depan rumah yang masih tradisional tersebut. Rumah-rumah penduduk di siang hari kerap kosong karena hampir seluruh anggota ikut berkebun.

Walaupun menjadi destinasi peselancar dari kalangan dunia, untuk mencapai Pulau Asu yang berada di Kecamatan Sirombu, Nias Barat, terbilang masih minim fasilitas dan akses.

Oleh sebab itu wisatawan lokal dan luar kota sedikit terhambat biaya ke sana. Karena untuk mendapatkan fasilitas dan akses yang mudah cukup mahal.

Misalnya saja dari pelabuhan atau dermaga Sirombu, hanya ada satu kapal penumpang untuk mencapai Pulau Asu dan itu hanya ada pada pukul 14.00. Rutenya bisa sampai 4 jam karena harus keliling dulu dari pulau satu ke pulau lain yang ada 8 di sana. Sedangkan biaya perorangnya berkisar Rp 50 ribu.

Wisatawan turis mancanegara biasanya menyewa boat yang ada di sana dengan tarif Rp 1 juta sekali keberangkatan. Kelebihannya wisatawan bisa lebih cepat sampai dan memiliki fasilitas keselamatan seperti pelampung dan hanya bisa hanya memakan waktu sekitar 30-45 menit.

Ada juga turis yang suka tantangan menyewa sampan nelayan dengan tarif Rp 500 ribu dengan rute memakan waktu 1,5 hingga 2 jam jam. Tapi akan merasakan goncangan diterpa ombak dan kemasukan air saat ombak sedang kuat. Bahkan terkadang oleng jika ada angin kencang, tapi sampan tersebut terbilang aman karena terbuat dari lempengan seng tebal dan kuat kemudian didouble kayu lagi.

Sedangkan untuk pulang dari Pulau Asu ke Pelabuhan Sirombu, hanya ada kapal penumpang pukul 06.00. Lucunya, angkutan umum dari pelabuhan Sirombu hanya mengangkut penumpang pada pukul 15.00.

Jika wisatawan yang datang mengharapkan angkutan umum sepertinya harus menunggu atau lama ngetem di pelabuhan.

Misalnya saja, wisatawan yang datang dari Medan menggunakan pesawat akan start dari Bandara Binika menggunakan mobil travel untuk mencapai Gunung Sitoli (kawasan perkotaan Nias) dengan biaya Rp 30 ribu perorang dengan memakan waktu setengah jam. Kemudian mengambil angkutan umum jurusan Sirombu dengan biaya Rp 50 ribu dengan lama perjalanan selama 2 jam yang hanya ada pada antara waktu pukul 15.00 hingga 16.00.

Kemudian sesampainya di sana, wisatawan sudah ketinggalan kapal penumpang karena hanya berangkat pada pukul 14.00.

Jadi sebaiknya wisatawan yang memiliki rencana ke Pulau Asu memiliki perencanaan matang untuk mencarter mobil untuk mencapai Pelabuhan Sirombu atau pilihan kedua, menggunakan angkutan umum ke Sirombu tapi menyewa sampan nelayan untuk mencapai Pulau Asu.

Untuk oleh-oleh makanan khas Nias, Sumatera Utara, yang kaya akan wisata laut dan pulau di tiap sudutnya, tentu yang bersinggungan dengan seafood, yaitu ada sambal bubuk udang khas Nias, yang dijajakan di beberapa titipk seperti di Gunung Sitoli, Nias Utara.

Sambal bubuk udang terdiri dari komposisi udang yang dihaluskan, kentang, kacang tanah, bumbu dapur dan cabai.

Santapan cemilan ini bisa dimakan langsung atau ditaburin di nasi untuk santapan sarapan atau makan siang anda.

Rasa gurih dari kentang yang dihaluskan dan kriuk dari rasa kacang tanah yang masih bulat melengkapi rasa bubuk udang yang manis dan asin dari rempah-rempah bumbu dapur yang digunakan.

Tidak ketinggalan rasa pedasnya juga terasa di ujung lidah. Jadi santapan Sambal Bubuk Udang cocok sering dicampur untuk santapan aneka sop, aneka mie atau nasi yang digoreng hingga santapan menemani nasi putih saja.

Marta, penjaga gerai menuturkan, oleh-oleh khas Nias andalan Gunung Sitoli adalah Sambal Udang Bubuk. Racikan produk rumahan ini sangat menjaga citarasa dan kekhasannya untuk Nias dan sekitarnya sehingga tidak dipasarkan di luar kota Nias.

“Bagi anda yang ingin merasakan enak dan gurihnya Sambal udang bubuk harus berkunjung dulu ke Nias. Bubuk udang bisa dimakan langsung atau dicampur dengan nasi. Walaupun udang dan kentangnya dihaluskan, bawang gorengnya diiris dan kacang tanahnya bulat-bulat dicampur di dalam kemasan sambal udang bubuk.

Sambal Bubuk Udang diolah dan dimasak oleh tangan profesional yang tahu betul resep dari turun menurun khas makanan Nias. Harga untuk aneka oleh-oleh ini pun beragam, sambal udang bubuk dibandrol Rp 45 ribu perbungkusnya. Sedangkan aneka keripik dan kerupuk Rp 15 hingga 25 ribu perbungkusnya.

sambal

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s