Uji Nyali Saat Eksplore Nias, Fikir Panjang Mau ke Pulau Asu

Bagi saya backpackeran itu uji nyali. Demi murah meriah eksplore Nias, saya hampir jatuh ke jurang karena angkutan umum yang saya tumpangi pintunya terbuka lebar saat melintasi tikungan tajam, dan saya yang duduk paling pinggir samping pintu terseret hampir melayang di udara. Hampir saja jika teman backeran Elfa Harahap menarik tangan saya sambil menjerit histeris.

Si abang supir pun segera berhenti dan menyuruh keneknya memperbaiki pintu. Kalimat yang tidak terlupa dari si kenek waktu menghampiri pintu di samping saya “Hampir ya kan kak, ini pintunya memang rusak,” ujarnya sambil nyengir.

Sebenarnya insiden naik angkut Jurusan Sirombu dari Gunung Sitoli untuk menyeberang ke Pulau Asu ini buat saya geleng-geleng. Tapi apa boleh buat, apes sudah biasa menyertai perjalanan saya. Jadi insiden ini tidak buat saya naik darah apalagi emosi, saya bahkan membalas si abang kenek dengan nyengir sambil bilang. “Lanjut bang.”

Ya kalau backpackeran ke Nias ya harus sabar-sabar, selain susah cari angkutan ya kalau ada pun memprihatinkan. Seperti angkutan ke Sirombu ya cuman 1 ini, selain menerima penumpang juga menerima pengiriman barang, pengantaran logistik hingga binatang. Ya tidak bersaing dapat kursi dengan sayur dan ayam saja sudah beruntung. Belum lagi kondisi mobil yang memprihatinkan, penyok di sana-sini dan warna cat yang memudar hingga pintu yang penuh kejutan bisa terbuka sendiri.

20151109_174721

Saya yang sudah jadi korban pintu rusak saja mau tidak mau, tidak boleh kapok. Saya bahkan minta nomor telepon si kenek untuk jaga-jaga  menanyakan kapan angkutan lewat pelabuhan untuk transportasi pulang nanti.

Uji nyali tidak berhenti di situ ternyata. Sesampainya di pelabuhan penyeberangan ke Pulau Asu, kami memilih kapal nelayan, yang katanya memakan waktu 1,5 jam paling lama. Ya nekat menyeberang digoyang ombak dengan kapal kecil yang terbuat dari kayu milik nelayan pun jadi pilihan.

Teryata oh ternyata, perjalanan cukup mengocok perut bukan karena sangkin girangnya melainkan karena Antimo tidak mempan dengan goyangan ombak malam yang maha dahsyat. Kami cuman bisa celengak celengok tidak berani bersuara, karena laut malam itu hening dan bergerak sedikit apalagi berpindah tempat, kapal goyang seperti mau terbalik. Kapal sedikit lambat jadi 2 jam di laut belum sampai. Kami di sampan pun cuman bisa hitung bintang sambil berbalas senyum. Melihat dan menunggu siapa yang ueeek duluan.

Perginya udah mengerikan, ternyata pulangnya lebih parah. Kapal terombang-ambil ambil karena ombak tinggi, bahkan sesekali menghempaskan kapal kemudian airnya masuk ke kapal. Kami pun sibuk menguras air yang masuk dengan tangan. Ikan-ikan juga ikut masuk dan terhempas sesekali ke wajah kami, dan saya merasakan betul ikan-ikan yang melayang ke kepala dan ke mata saya.

Parahnya, kapal berputar-putar selama 4 jam. Kami sangkin ngerinya, sampai ingat Tuhan seketika, baca doa, dzikir sambil kembut tiba-tiba takut mati.

Setelah agak surut kapal berhasil menepi namun bukan di pelabukan seharusnya. Saya yang punya nomor telepon si kenek pun terpaksa menelepon agar dijemput di pelabuhan berbeda. Untung angkutan mau menunggu di pelabuhan yang kami maksud, mungkin membalas rasa bersalah karena hampir membunuh saya, haha. Angkutan menunggu di di pelabuhan sambil melambaikan tangan saat melihat kami. Apes yang membawa berkah hahaha. Bak penumpang istimewa kami dijemput sesuai permintaan dan ditunggu pula.

Ditanya apa kapok? Saya fikir-fikir dulu apes kali ini masuk level berapa.

Walaupun menjadi destinasi peselancar dari kalangan dunia, untuk mencapai Pulau Asu yang berada di Kecamatan Sirombu, Nias Barat, terbilang masih minim fasilitas dan akses.Oleh sebab itu wisatawan lokal dan luar kota sedikit terhambat biaya ke sana. Karena untuk mendapatkan fasilitas dan akses yang mudah cukup mahal.

Misalnya saja dari pelabuhan atau dermaga Sirombu, hanya ada satu kapal penumpang untuk mencapai Pulau Asu dan itu hanya ada pada pukul 14.00 kalau tidak penuh penumpang penduduk pulau yang akan pulang membawa perlengkapan dan persediaan dari kota.

Rutenya bisa sampai 4 jam karena harus keliling dulu dari pulau satu ke pulau lain yang ada 8 di sana. Sedangkan biaya perorangnya berkisar Rp 50 ribu.

Wisatawan turis mancanegara biasanya menyewa boat yang ada di sana dengan tarif Rp 1 juta sekali keberangkatan.

Kelebihannya wisatawan bisa lebih cepat sampai dan memiliki fasilitas keselamatan seperti pelampung dan hanya bisa hanya memakan waktu sekitar 30-45 menit.

Kalau nekat alias mau murah bisa pakai kapal nelayan dengan harga nego, dapat nelayan yang baik hati mungkin boleh bayar seikhlasnya hehe.

DCIM100MEDIA
DCIM100MEDIA
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s